Chatmo
Layanan Pelanggan

Pre-Chat Form Live Chat: Data Apa yang Perlu Ditanyakan Agar Leads Terkumpul Tanpa Membuat Pengunjung Pergi

Formulir sebelum chat membantu tim mengenal pengunjung dan menindaklanjuti leads, tetapi formulir yang terlalu panjang membuat orang batal bertanya. Pelajari kapan pre-chat form dibutuhkan, kolom yang sebaiknya ditanyakan, cara menulis label yang jelas, dan cara memakai datanya untuk melayani lebih cepat.

Antonio Kurniawan

Antonio Kurniawan

Product & Customer Success

TerbitDiperbarui 7 menit baca Read in English
Tangan mengetik di laptop di atas meja kerja
Di halaman ini
  1. Kenapa pre-chat form berguna?
  2. Kapan pre-chat form tidak diperlukan?
  3. Kolom yang sebaiknya ditanyakan
  4. Contoh pre-chat form per industri
  5. Menulis label dan teks pendukung yang jelas
  6. Memakai data formulir untuk melayani lebih cepat
  7. Privasi dan kepatuhan
  8. Mengukur dampak pre-chat form
  9. Formulir di ponsel: tantangan yang sering terlupakan
  10. Menghubungkan data formulir dengan CRM dan laporan
  11. Contoh penerapan: penyedia jasa interior
  12. Menguji beberapa versi formulir
  13. Kesalahan yang sering terjadi
  14. Ringkasan

Poin penting

  • Pre-chat form mengumpulkan data dasar sebelum percakapan dimulai, sehingga tim bisa menindaklanjuti meski pengunjung meninggalkan website.
  • Semakin banyak kolom wajib, semakin banyak pengunjung yang batal; mulai dari dua atau tiga kolom.
  • Nama dan satu kontak seperti WhatsApp atau email biasanya cukup; tambahkan pertanyaan kebutuhan hanya jika benar-benar membantu routing.
  • Jelaskan untuk apa data dipakai dan jangan meminta data sensitif di formulir.
  • Gunakan data formulir untuk menyapa dengan nama, mengarahkan ke tim yang tepat, dan follow-up saat pengunjung offline.

Pre-chat form live chat adalah formulir singkat yang muncul sebelum pengunjung website memulai percakapan. Fungsinya sederhana tetapi penting: tim tahu siapa yang sedang bertanya, chat bisa diarahkan ke orang yang tepat, dan leads tetap bisa ditindaklanjuti meski pengunjung sudah menutup website. Masalahnya, setiap kolom tambahan adalah alasan bagi pengunjung untuk batal bertanya. Formulir yang efektif biasanya hanya meminta nama dan satu kontak, misalnya nomor WhatsApp atau email, ditambah satu pertanyaan kebutuhan jika benar-benar membantu. Jelaskan juga untuk apa data dipakai, agar pengunjung merasa aman mengisinya.

Panduan ini membahas kapan pre-chat form dibutuhkan, kolom yang sebaiknya ditanyakan, contoh untuk berbagai industri, cara menulis label yang jelas, dan cara memakai data formulir untuk layanan dan follow-up.

Kenapa pre-chat form berguna?

Tanpa formulir, percakapan live chat dimulai dari nol. Admin tidak tahu nama pengunjung, tidak punya cara menghubungi jika pengunjung pergi sebelum dibalas, dan harus menanyakan kebutuhan dari awal. Pre-chat form mengatasi beberapa masalah sekaligus:

  • Leads tidak hilang. Jika pengunjung menutup website sebelum admin membalas, tim masih bisa menghubungi lewat WhatsApp atau email yang sudah diisi.

  • Sapaan lebih personal. Admin atau AI bisa menyapa dengan nama sejak pesan pertama.

  • Routing lebih tepat. Pertanyaan tentang penjualan, dukungan teknis, atau tagihan bisa diarahkan ke tim yang sesuai.

  • Data untuk evaluasi. Anda tahu topik apa yang paling sering ditanyakan dan dari halaman mana.

Kapan pre-chat form tidak diperlukan?

Formulir tidak selalu tepat. Pertimbangkan untuk membuatnya sangat singkat atau tidak memakainya jika:

  • Website Anda melayani pertanyaan cepat yang tidak perlu ditindaklanjuti, misalnya jam buka atau lokasi.

  • Tim selalu online dan bisa membalas dalam hitungan detik.

  • Anda melihat banyak pengunjung yang membuka jendela chat lalu menutupnya begitu melihat formulir.

Dalam kasus seperti ini, Anda bisa membiarkan pengunjung langsung bertanya, lalu meminta kontak di tengah percakapan saat sudah relevan, misalnya "Boleh minta nomor WhatsApp-nya agar kami kirimkan penawaran lengkap?"

Kolom yang sebaiknya ditanyakan

Kolom

Wajib atau opsional

Kenapa

Nama

Wajib atau opsional

Untuk menyapa secara personal

Nomor WhatsApp

Disarankan wajib untuk bisnis yang follow-up lewat chat

Kanal tindak lanjut yang paling sering dibaca pelanggan di Indonesia

Email

Opsional atau alternatif dari WhatsApp

Cocok untuk B2B dan pengiriman dokumen

Topik pertanyaan

Opsional

Membantu mengarahkan ke tim yang tepat

Kota atau area

Opsional

Berguna untuk bisnis dengan area layanan terbatas

Nama perusahaan

Opsional, cocok untuk B2B

Membantu tim penjualan menyiapkan konteks

Aturan praktisnya: setiap kolom harus punya alasan yang jelas. Jika data tersebut tidak dipakai untuk melayani atau menindaklanjuti, jangan ditanyakan.

Contoh pre-chat form per industri

Toko online: nama, nomor WhatsApp, dan pilihan topik (Tanya Produk, Status Pesanan, Retur). Topik membantu chat status pesanan langsung masuk ke tim after sales.

Klinik atau salon: nama, nomor WhatsApp, dan layanan yang diminati. Dengan data ini, admin bisa langsung menawarkan jadwal tanpa bertanya dari awal.

Kursus dan pendidikan: nama orang tua atau peserta, nomor WhatsApp, dan jenjang atau usia peserta. Tim bisa langsung merekomendasikan program yang sesuai.

Software atau layanan B2B: nama, email kerja, nama perusahaan, dan ukuran tim. Data ini membantu tim penjualan memprioritaskan leads.

Properti: nama, nomor WhatsApp, dan jenis properti yang dicari. Agen bisa langsung mengirim pilihan yang relevan.

Pengunjung lebih mau mengisi formulir jika tahu alasannya. Tambahkan satu kalimat pendukung di atas formulir, misalnya:

Isi data singkat ini agar kami bisa membalas lebih cepat. Nomor WhatsApp hanya dipakai untuk mengirim jawaban jika kamu sudah menutup halaman ini.

Gunakan label yang jelas dan contoh di dalam kolom, misalnya "Nomor WhatsApp (contoh: 0812...)". Tandai kolom yang wajib dengan jelas, dan biarkan kolom lain opsional.

Seseorang mengetik di laptop dengan jam tangan di pergelangan

Memakai data formulir untuk melayani lebih cepat

Data formulir paling berguna jika langsung dipakai, bukan hanya disimpan:

Sapa dengan nama. "Halo Kak Rina, terima kasih sudah menghubungi kami. Soal status pesanan, boleh sebutkan nomor pesanannya?"

Arahkan ke tim yang tepat. Topik "Tagihan" masuk ke tim keuangan, "Tanya Produk" ke tim penjualan.

Jawab dengan konteks. Jika pengunjung memilih layanan tertentu, AI atau admin bisa langsung memberi informasi harga dan jadwal untuk layanan itu.

Follow-up saat pengunjung offline. Jika pengunjung pergi sebelum dibalas, tim bisa melanjutkan lewat WhatsApp dengan menyebut konteks: "Halo Kak Rina, tadi bertanya soal paket perawatan wajah di website kami. Ini informasinya."

Di ChatMo, widget webchat menyediakan pengaturan kolom formulir sebelum chat, dan data yang diisi pengunjung tersimpan bersama percakapan di inbox bersama. Admin dan AI agent bisa melihat nama dan kontak pengunjung sejak pesan pertama, dan percakapan bisa dibagikan otomatis ke tim yang tepat.

prefilled form chatmo

Privasi dan kepatuhan

Data yang dikumpulkan lewat pre-chat form adalah data pribadi. Beberapa prinsip yang perlu dijaga:

  • Minta seperlunya. Data yang tidak dipakai sebaiknya tidak dikumpulkan.

  • Jelaskan tujuannya. Kalimat pendukung di formulir membantu pengunjung memahami penggunaan datanya.

  • Batasi akses. Hanya tim yang membutuhkan yang bisa melihat data pengunjung.

  • Jangan minta data sensitif. Nomor kartu, PIN, atau password tidak boleh diminta lewat formulir atau chat.

  • Hormati permintaan berhenti. Jika pengunjung tidak ingin dihubungi lagi, catat dan patuhi.

Di Indonesia, pengelolaan data pribadi juga diatur oleh UU Pelindungan Data Pribadi. Pembahasan praktisnya untuk tim layanan pelanggan ada di artikel UU PDP dan data pelanggan di chat.

Mengukur dampak pre-chat form

Setelah memasang atau mengubah formulir, bandingkan beberapa angka selama dua sampai empat minggu:

Metrik

Yang dilihat

Pengunjung yang membuka jendela chat

Apakah widget terlihat dan menarik

Pengunjung yang mengisi formulir

Apakah formulir terlalu panjang atau membingungkan

Chat yang dimulai

Dampak formulir terhadap jumlah percakapan

Leads yang berhasil ditindaklanjuti

Manfaat kontak yang terkumpul

Waktu sampai masalah terselesaikan

Apakah routing berdasarkan topik membantu

Jika banyak pengunjung berhenti di formulir, kurangi kolom wajib. Jika jumlah chat tetap tetapi leads yang ditindaklanjuti naik, formulir Anda bekerja dengan baik.

Formulir di ponsel: tantangan yang sering terlupakan

Sebagian besar pengunjung website di Indonesia membuka situs lewat ponsel. Formulir yang terlihat ringkas di layar laptop bisa terasa panjang dan melelahkan di layar kecil, apalagi jika keyboard menutupi separuh layar. Uji pre-chat form langsung dari ponsel sebelum dipasang. Pastikan kolom nomor telepon memunculkan keyboard angka, tombol mulai chat mudah dijangkau ibu jari, dan pesan kesalahan muncul dengan jelas jika format nomor salah.

Hindari kolom yang membutuhkan banyak ketikan, seperti alamat lengkap atau deskripsi panjang, di dalam formulir. Pertanyaan seperti itu lebih nyaman ditanyakan di dalam percakapan, ketika pengunjung sudah terlibat dan merasa dibantu. Pilihan berbentuk tombol atau daftar, misalnya topik pertanyaan, jauh lebih mudah diisi di ponsel dibanding kolom teks bebas.

Menghubungkan data formulir dengan CRM dan laporan

Data dari pre-chat form paling bernilai jika tersimpan sebagai bagian dari profil kontak, bukan hanya di dalam satu percakapan. Dengan begitu, saat pengunjung yang sama kembali minggu depan lewat WhatsApp atau Instagram, tim tahu bahwa ia pernah bertanya di website tentang layanan tertentu. Gunakan label untuk menandai sumber, misalnya "Website - Halaman Harga", agar Anda bisa melihat halaman mana yang paling banyak menghasilkan leads.

Tinjau data ini setiap bulan. Topik yang paling sering dipilih di formulir menunjukkan informasi yang mungkin belum cukup jelas di website. Jika banyak pengunjung memilih topik "Harga", pertimbangkan menampilkan kisaran harga di halaman layanan. Pre-chat form yang dikelola dengan baik tidak hanya mengumpulkan kontak, tetapi juga memberi masukan untuk memperbaiki website.

Contoh penerapan: penyedia jasa interior

Sebuah penyedia jasa interior di Jakarta memasang live chat dengan formulir enam kolom wajib: nama, email, nomor telepon, alamat, jenis ruangan, dan anggaran. Hanya sedikit pengunjung yang menyelesaikan formulir, dan sebagian besar menutup jendela chat begitu melihatnya.

Mereka mengubah formulir menjadi dua kolom wajib, yaitu nama dan nomor WhatsApp, ditambah satu pilihan opsional jenis ruangan. Pertanyaan anggaran dan alamat dipindah ke dalam percakapan, ditanyakan oleh AI agent setelah pengunjung menjelaskan kebutuhannya. Jumlah chat yang dimulai naik tajam, dan karena nomor WhatsApp selalu terisi, tim tetap bisa mengirim penawaran kepada pengunjung yang meninggalkan website sebelum percakapan selesai.

Menguji beberapa versi formulir

Tidak ada formulir yang sempurna untuk semua bisnis. Cara terbaik menemukan versi yang tepat adalah mencoba. Jalankan satu versi selama dua minggu, catat berapa pengunjung yang menyelesaikan formulir dan berapa leads yang berhasil ditindaklanjuti, lalu coba versi lain dengan perubahan kecil, misalnya mengubah email dari wajib menjadi opsional atau mengganti teks pendukung. Bandingkan hasilnya dan pertahankan versi yang memberi keseimbangan terbaik antara jumlah chat dan kualitas leads. Ubah satu hal setiap kali agar Anda tahu perubahan mana yang berpengaruh.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Terlalu banyak kolom wajib. Pengunjung batal bertanya sebelum percakapan dimulai.

  2. Tidak menjelaskan tujuan data. Pengunjung ragu membagikan nomor teleponnya.

  3. Data formulir tidak dipakai. Admin tetap bertanya nama dan kebutuhan dari awal.

  4. Meminta data sensitif. Merusak kepercayaan dan berisiko secara hukum.

  5. Tidak pernah mengukur. Anda tidak tahu apakah formulir membantu atau justru menghambat.

Ringkasan

  • Pre-chat form membantu mengenali pengunjung, mengarahkan chat, dan menindaklanjuti leads.

  • Mulai dari dua atau tiga kolom: nama, kontak, dan topik bila perlu.

  • Jelaskan tujuan data dan jangan minta data sensitif.

  • Pakai data untuk menyapa dengan nama, routing, dan follow-up saat pengunjung offline.

  • Ukur dampaknya dan kurangi kolom jika banyak pengunjung berhenti di formulir.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu pre-chat form?

Pre-chat form adalah formulir singkat yang muncul sebelum pengunjung website memulai live chat, biasanya meminta nama, kontak, dan kadang topik pertanyaan.

Apakah live chat wajib memakai pre-chat form?

Tidak wajib. Pre-chat form berguna jika Anda perlu menindaklanjuti leads atau mengarahkan chat ke tim tertentu. Untuk website yang mengutamakan kemudahan bertanya, formulir bisa dibuat sangat singkat atau dimatikan.

Kolom apa saja yang sebaiknya ada di pre-chat form?

Nama dan satu kontak, misalnya nomor WhatsApp atau email, biasanya sudah cukup. Tambahkan pertanyaan topik atau kebutuhan hanya jika membantu mengarahkan chat ke tim yang tepat.

Apakah pre-chat form menurunkan jumlah chat?

Bisa, terutama jika terlalu banyak kolom wajib. Formulir singkat dengan alasan yang jelas biasanya tetap menjaga jumlah chat sambil meningkatkan kualitas leads.

Bagaimana menjaga privasi data dari pre-chat form?

Minta data seperlunya, jelaskan tujuan penggunaannya, simpan di sistem yang aksesnya terbatas, dan jangan meminta data sensitif seperti nomor kartu atau password.

Bagikan artikel ini

Antonio Kurniawan

Tentang penulis

Antonio Kurniawan

Product & Customer Success

Tim produk dan customer success ChatMo membantu bisnis di Indonesia mengelola percakapan WhatsApp, Instagram, dan webchat dengan AI agent dan inbox bersama.

Layanan Pelanggan

UU PDP dan Data Pelanggan di Chat: Panduan Praktis untuk Tim Customer Service

Setiap percakapan dengan pelanggan berisi data pribadi: nama, nomor telepon, alamat, bahkan foto dokumen. Pelajari kewajiban dasar dalam UU Pelindungan Data Pribadi, data apa yang sebaiknya tidak diminta lewat chat, cara membatasi akses tim, menangani permintaan pelanggan, dan menyiapkan diri jika terjadi kebocoran.

Antonio Kurniawan

Antonio Kurniawan

7 menit baca

Kelola semua chat pelanggan dari satu inbox

WhatsApp, Instagram, Facebook, Telegram, dan webchat dalam satu tempat, dengan AI agent yang membalas 24/7.